Me : Sakit gigi :(
Mad Hippo: Udah ke dokter gigi? Barangkali mau tumbuh taring lagi.
I am afraid to go to the dentist (for obvious reasons), but subconsciously I am always worried that missing one dentist appointment may lead to my wearing dentures at the age of 40. You see, I develop tooth-decay very easily. Okay so I do eat chocolates almost everyday but I am also obsessed about keeping my teeth clean. When I was 15 I had the world’s worst toothache and ever since then, I took care of my teeth like you wouldn’t believe. Not only I brushed my teeth excessively (until I found out recently that you could actually do more harm than good doing so), I visited the dentist so religiously, telling myself as the drill started whirling that I would do anything to keep myself from wearing full dentures at 40.
Then from 1998 to 2000 I was quite busy and forgot about visiting the dentist’s office. And from 2001 until 2003, I visited the dentist almost every month, because not only several new decays had formed by then, but the older fillings needed to be replaced too.
I had no idea, that the dentist I visited for those 2 years had planted quite a large amount of mercury, the cancer-causing metal, inside my mouth.
It started yesterday when I felt sort of funny around my upper right jaw. Being obsessed of my teeth, I quickly thought I had developed another new decay. My first reaction was to send a text-message to Mad Hippo. My second reaction was to haul my ass as fast as I could to my new dentist, not the dentist I saw in 2001-2003 because she had moved out of town. It turned out that my teeth were okay, apart from this new small decay which was on a molar in my upper left jaw, not my right one. But the dentist made one remark that still echoed inside my head till today:
”Oh my God. You have so many fillings. And almost all them are amalgam fillings. Why didn’t your former dentists ever tell you that amalgam fillings contain mercury, and that 40 years after they are put inside your teeth, they may cause a cancer?”
He proceeded to explain that yes, amalgam fillings didn’t cause cancer to all people, just to some of the people, but it was still considered harmful. And I know for a fact that before my dad started his chemotherapy, he was advised to have his amalgam fillings removed. My dentist recommended that I have all of my amalgam fillings replaced with another substance, but the problem is, I have so many of them! How many years, and how much money do I have to spend to replace all of them? Why didn’t my former dentist tell me about this back in 2001, so that I didn’t have to waste so much money on something that is considered carcinogenic? (How could I be so stupid anyway? I guess even before 2001, I had heard there was a controversy about the use of amalgam dental fillings, but why didn’t I ask the dentist about it? How could I be so ignorant?)
Last night I texted a former classmate of mine, a dentist who is now working towards his PhD. ”Is amalgam really that harmful,” was what I basically asked him, ”because my mouth is so full of them.”
This morning his reply came: ”Amalgam is considered harmful because it contains mercury, and once mercury enters your blood stream, it may obstruct your blood from carrying sufficient oxygen. There is still a controversy about it though. Some people say the mercury ions inside a dental filling don’t bind with anything; therefore they can’t enter your body’s tissues. But frankly speaking, I have never used amalgam since four years ago.”
I wanted to hunt down my former dentist and shove a pack of amalgam fillings down her throat. The least she could do was to tell me about this controversy, and left the decision to me. But no, as I remember vividly, she made a point of saying over and over again that amalgam was safe. That she did a perfect job with the fillings and they would last me a lifetime. That the fillings were so perfectly done so that I wasn’t supposed to have them replaced with “that new white substance because you’re embarrassed with the black fillings I gave you.”
OH MY GOD.
I just searched Wikipedia about this controversy and am left shocked to my very core. It says that in US, the use of amalgam fillings will be illegal in 2007. You can also read another article about it here. Meanwhile I am gonna cry. Yes I really think I am gonna cry.
The only thing I was fit for was to be a writer, and this notion rested solely on my suspicion that I would never be fit for real work, and that writing didn't require any. Russell Baker (1925 - )
Saturday, March 25, 2006
Tuesday, March 14, 2006
DIPUJI IBU
Saya belum sepuluh tahun ketika mengetahui apa ambisi ibu saya untuk anak-anaknya: selain kecemerlangan akademis, juga kemampuan berenang, serta bermain tenis dan piano tanpa cela. Dan saya sebelum sepuluh tahun: tergila-gila pada ibu saya, ingin selalu merebut perhatiannya, ingin dipuji olehnya (karena dia tidak pernah memuji kecuali anak tetangga). Juga, sebelum sepuluh tahun, saya gemar bersekolah, begitu gemarnya hingga ke tingkat yang membahayakan: saya tergila-gila mengerjakan pekerjaan rumah. Oh, hingga kelas dua SMA kegemaran saya adalah berjaga hingga pagi menyelesaikan soal-soal di buku matematika. Tetapi, cerita ini bukan tentang matematika.
Demikianlah tidak sulit bagi saya untuk berkilau-kilau di bidang akademik, walaupun karena mudahnya pelajaran di sekolah dasar, sekitar seratus anak tetangga seumuran juga sama berkilau-kilaunya seperti saya. Saya tak ingat Ibu pernah memuji kecemerlangan akademis saya. Hingga kini pun, walaupun dengan malu hati, saya akui betapa saya haus akan pujian darinya. Tetapi, kadang terpikir, benarkah mengharap pujian dari ibu kita sendiri adalah sedemikian terlarang?
Karena menjadi juara kelas bertahun-tahun tak mengesankan ibu, maka berikutnya tentulah: berenang. Ini lebih sulit sedikit daripada bahasa dan matematika, tetapi dengan suatu keajaiban, akhirnya saya menguasainya. Awalnya saya hanya berjalan-jalan di dalam kolam, lalu mengambangkan tubuh dengan tangan berpegangan pada lantai kolam, lalu akhirnya: berenang. Tetapi, tetapi: saya bukanlah juara renang. Gaya renang saya pun tak lengkap; hingga kini saya tidak bisa berenang dengan gaya kupu-kupu. Lomba renang tak menarik minat saya, karena selamanya saya adalah si soliter yang benci berkompetisi secara terbuka. Berenang memang menyenangkan; kegiatan itu memberi jalan untuk saya bersendirian dalam waktu lama tanpa diganggu, dan saya berterimakasih pada Ibu yang telah memaksa saya belajar berenang. Tapi tanpa gelar juara, tidak ada pujian Ibu.
Berikutnya: tenis. Dengan tennis hanya ada dua pilihan: menang atau kalah. Kamu tidak bisa bermain sendirian. Ini bukanlah olahraga yang soliter. Tak perlu waktu lama bagi saya yang sangat mengenal diri sendiri untuk mengetahui bahwa saya tidak akan pernah menguasainya. Bahkan: saya samasekali tidak menyukainya. (Mungkin saya akan menyukai squash, karena olahraga itu bisa menjadi soliter, tapi saat itu saya belum mengenalnya). Saya mempelajarinya selama tiga tahun, tapi lalu tidak kuat lagi menahankan pandangan kecewa Ibu yang selalu menyertai saya selama latihan.
Setelah itu tentunya: piano.
Saya dan Ibu, berdua saja, berangkat ke tempat kursus yang jauhnya delapan kilometer dari rumah kami saat itu. Kami naik becak sampai jalan besar, kemudian naik bus kota. Guru saya perempuan cantik yang bengis: pukulannya di jari-jari dan tangan saya tidak sesakit sabetan lidahnya yang tajam selama menit-menit panjang yang saya habiskan bersamanya. Dari si bengis yang cantik inilah saya mengetahui bahwa saya bodoh, lamban, pemicu darahtinggi, malas, tidak bisa diajar, dan tidak berbakat. Semuanya tidak pernah terkirakan oleh saya sebelumnya: sebelumnya, saya mengira saya cukup pintar, karena bukankah saya biasa menjadi juara kelas?
Tidak terhitung lagi berapa kali saya menangis di kelas privat piano, dan biasanya si Bengis Cantik akan dengan marah membanting pintu dan meninggalkan saya sendirian sampai saya bisa berhenti menangis. Tetapi, inilah anehnya: ketiga saudara saya berhenti belajar piano pada kesempatan pertama, tetapi saya malah terus mempelajarinya hingga berbelas-belas tahun kemudian.
Lima tahun menahankan penghinaan si Bengis, hari yang saya tunggu-tunggu datang juga. Saya dan Ibu berpamitan padanya: kami akan pergi ke tempat yang jauh, dan piano saya akan tetap di sini. Di tempat yang jauh itu juga tidak ada guru piano yang mengerti bahasa kami. Di tempat yang jauh itu, boleh jadi saya tidak akan pernah menyentuh piano lagi.
“Dia tidak akan berhenti,” kata si Bengis, menatap lurus ke mata ibu saya. “Bakatnya baik, dia tidak takut berpayah-payah dan dengan kemampuannya, dia akan sanggup belajar bahkan dari guru piano yang berbahasa asing.” Saya memandangi si Bengis, mengira-ngira apa maksud sarkastik di balik kalimatnya. Lalu saya memandang Ibu dan melihat kilatan halus di mata coklatnya.
Saat itu saya tahu, kebanggaan tidak harus diungkapkan dalam bentuk pujian. Satu kilatan halus itu sudah cukup buat saya.
Enambelas tahun sudah lewat sejak kejadian itu. Sepotong pujian pun tidak pernah keluar dari mulut ibu saya selama itu. Tetapi: ibu membelikan saya piano di tempat yang jauh itu. Ibu memastikan sebuah piano selalu ada di dekat saya, kemanapun kami berpindah-pindah di kemudian hari.
Sekarang, setiap duduk di piano saya merasa sangat bahagia: ibu telah memberi saya jalan untuk menikmati keindahan soliter di depan alat musik ini. Piano memang sesuai dengan jiwa saya: sendirian, dia adalah alat yang bisa mengeluarkan harmoni dan melodi sekaligus. Agaknya bukan hanya pujian yang dapat menghangatkan hati dan mengembangkan motivasi. Kemampuannya mengenali saya dan bagaimana dia dapat menolong saya mengembangkan diri, hingga kini terasa begitu menyentuh. Siapakah orangnya yang mau repot-repot mengenali saya, selain dia?
Tetapi marilah kita tidak membohongi diri sendiri. Apapun, saya tetaplah manusia tak tahu diri yang gemar dipuji. Kamu bisa memuji sesuatu yang sangat remeh seperti misalnya sepatu saya dan mendapati saya melayang seketika. Tapi sesungguhnya tidak ada pujian yang dapat kamu keluarkan untuk membuat saya sedemikian mabuk. Satu-satunya pujian yang memabukkan saya tidak dapat diucapkan: dia hanya berupa kilatan halus, melintas sekilas di sepasang mata coklat muda.
Demikianlah tidak sulit bagi saya untuk berkilau-kilau di bidang akademik, walaupun karena mudahnya pelajaran di sekolah dasar, sekitar seratus anak tetangga seumuran juga sama berkilau-kilaunya seperti saya. Saya tak ingat Ibu pernah memuji kecemerlangan akademis saya. Hingga kini pun, walaupun dengan malu hati, saya akui betapa saya haus akan pujian darinya. Tetapi, kadang terpikir, benarkah mengharap pujian dari ibu kita sendiri adalah sedemikian terlarang?
Karena menjadi juara kelas bertahun-tahun tak mengesankan ibu, maka berikutnya tentulah: berenang. Ini lebih sulit sedikit daripada bahasa dan matematika, tetapi dengan suatu keajaiban, akhirnya saya menguasainya. Awalnya saya hanya berjalan-jalan di dalam kolam, lalu mengambangkan tubuh dengan tangan berpegangan pada lantai kolam, lalu akhirnya: berenang. Tetapi, tetapi: saya bukanlah juara renang. Gaya renang saya pun tak lengkap; hingga kini saya tidak bisa berenang dengan gaya kupu-kupu. Lomba renang tak menarik minat saya, karena selamanya saya adalah si soliter yang benci berkompetisi secara terbuka. Berenang memang menyenangkan; kegiatan itu memberi jalan untuk saya bersendirian dalam waktu lama tanpa diganggu, dan saya berterimakasih pada Ibu yang telah memaksa saya belajar berenang. Tapi tanpa gelar juara, tidak ada pujian Ibu.
Berikutnya: tenis. Dengan tennis hanya ada dua pilihan: menang atau kalah. Kamu tidak bisa bermain sendirian. Ini bukanlah olahraga yang soliter. Tak perlu waktu lama bagi saya yang sangat mengenal diri sendiri untuk mengetahui bahwa saya tidak akan pernah menguasainya. Bahkan: saya samasekali tidak menyukainya. (Mungkin saya akan menyukai squash, karena olahraga itu bisa menjadi soliter, tapi saat itu saya belum mengenalnya). Saya mempelajarinya selama tiga tahun, tapi lalu tidak kuat lagi menahankan pandangan kecewa Ibu yang selalu menyertai saya selama latihan.
Setelah itu tentunya: piano.
Saya dan Ibu, berdua saja, berangkat ke tempat kursus yang jauhnya delapan kilometer dari rumah kami saat itu. Kami naik becak sampai jalan besar, kemudian naik bus kota. Guru saya perempuan cantik yang bengis: pukulannya di jari-jari dan tangan saya tidak sesakit sabetan lidahnya yang tajam selama menit-menit panjang yang saya habiskan bersamanya. Dari si bengis yang cantik inilah saya mengetahui bahwa saya bodoh, lamban, pemicu darahtinggi, malas, tidak bisa diajar, dan tidak berbakat. Semuanya tidak pernah terkirakan oleh saya sebelumnya: sebelumnya, saya mengira saya cukup pintar, karena bukankah saya biasa menjadi juara kelas?
Tidak terhitung lagi berapa kali saya menangis di kelas privat piano, dan biasanya si Bengis Cantik akan dengan marah membanting pintu dan meninggalkan saya sendirian sampai saya bisa berhenti menangis. Tetapi, inilah anehnya: ketiga saudara saya berhenti belajar piano pada kesempatan pertama, tetapi saya malah terus mempelajarinya hingga berbelas-belas tahun kemudian.
Lima tahun menahankan penghinaan si Bengis, hari yang saya tunggu-tunggu datang juga. Saya dan Ibu berpamitan padanya: kami akan pergi ke tempat yang jauh, dan piano saya akan tetap di sini. Di tempat yang jauh itu juga tidak ada guru piano yang mengerti bahasa kami. Di tempat yang jauh itu, boleh jadi saya tidak akan pernah menyentuh piano lagi.
“Dia tidak akan berhenti,” kata si Bengis, menatap lurus ke mata ibu saya. “Bakatnya baik, dia tidak takut berpayah-payah dan dengan kemampuannya, dia akan sanggup belajar bahkan dari guru piano yang berbahasa asing.” Saya memandangi si Bengis, mengira-ngira apa maksud sarkastik di balik kalimatnya. Lalu saya memandang Ibu dan melihat kilatan halus di mata coklatnya.
Saat itu saya tahu, kebanggaan tidak harus diungkapkan dalam bentuk pujian. Satu kilatan halus itu sudah cukup buat saya.
Enambelas tahun sudah lewat sejak kejadian itu. Sepotong pujian pun tidak pernah keluar dari mulut ibu saya selama itu. Tetapi: ibu membelikan saya piano di tempat yang jauh itu. Ibu memastikan sebuah piano selalu ada di dekat saya, kemanapun kami berpindah-pindah di kemudian hari.
Sekarang, setiap duduk di piano saya merasa sangat bahagia: ibu telah memberi saya jalan untuk menikmati keindahan soliter di depan alat musik ini. Piano memang sesuai dengan jiwa saya: sendirian, dia adalah alat yang bisa mengeluarkan harmoni dan melodi sekaligus. Agaknya bukan hanya pujian yang dapat menghangatkan hati dan mengembangkan motivasi. Kemampuannya mengenali saya dan bagaimana dia dapat menolong saya mengembangkan diri, hingga kini terasa begitu menyentuh. Siapakah orangnya yang mau repot-repot mengenali saya, selain dia?
Tetapi marilah kita tidak membohongi diri sendiri. Apapun, saya tetaplah manusia tak tahu diri yang gemar dipuji. Kamu bisa memuji sesuatu yang sangat remeh seperti misalnya sepatu saya dan mendapati saya melayang seketika. Tapi sesungguhnya tidak ada pujian yang dapat kamu keluarkan untuk membuat saya sedemikian mabuk. Satu-satunya pujian yang memabukkan saya tidak dapat diucapkan: dia hanya berupa kilatan halus, melintas sekilas di sepasang mata coklat muda.
Subscribe to:
Posts (Atom)